Login | Home | Kontak Kami | Buku Tamu
English Version   
Kebijakan
Strategi & Program

Perpustakaan
Referensi
Klipping
Proceeding
Bibliografi
Produk Coremap
Audio-Video
Photo

Metadata
Database Personal
Pelatihan
Kawasan Konservasi

Karang Batu
Karang Lunak
Sponge
Ikan Karang
Moluska
Echinodermata
Udang
Kepiting
Lamun
Rumput Laut
Mangrove

Education Series
Komik Edukasi

Baseline
Monitoring
Riset Agenda
CREEL
Konservasi Laut Daerah
Wisata Bahari

Kamus Karang
Daftar Singkatan
Panduan
Download
E-Book
 

















Anda Pengunjung ke

05887071

Sejak Mei 2007

ARTIKEL - TREND/POPULER
Panduan Pengembangan Kawasan Konservasi Laut
10 Maret 2004

Kawasan konservasi laut penting bagi perlindungan keanekaragaman hayati laut dan pemeliharaan produktifitas perairan terutama sumberdaya perikanan. Saat ini jumlah kawasan konservasi laut terlalu sedikit dibanding dengan luas laut yang belum dikelola secara baik. Sampai sekarang baru 1% dari laut keseluruhan yang termasuk dalam kawasan konservasi dibanding dengan kawasan darat yang sudah mencapai 9%. Panduan ini mengemukakan langkah yang seyogyanya diambil untuk membentuk jaringan kawasan konservasi laut yang efektif.

Ada dua cara dalam pembentukan kawasan konservasi laut yaitu membangun kawasan konservasi laut yang kecil-kecil dalam jumlah yang banyak dan dilin-dungi secara ketat; atau membentuk kawasan penggunaan ganda yang luas dan mengandung daerah konservasi di dalamnya yang dilindung secara ketat. Kedua pendekatan tersebut secara prinsip tidak perlu diperdebatkan. Keduanya harus berada dalam kerangka pengelolaan ekosistem terpadu, mencakup ekosistem laut dan darat yang mempengaruhinya.

Dari berbagai kegiatan teknis di lapangan diperoleh pengalaman umum yakni faktor yang amat berpengaruh adalah integritas pengelola. Dalam hal ini manajer telah membuat kesalahan dengan memperdaya masyarakat sehingga menghilangkan kepercayaan, walaupun dalam beberapa hal dan kesempatan berhasil akan tetapi kenyataan akhir merupakan kegagalan.˙

Salah satu pengalaman kunci, yakni waktu yang dialokasikan untuk fase persiapan merupakan modal penting yang terbukti kemudian hari. Penyelenggara kawasan konservasi laut harus mampu meyakinkan manfaatnya kepada pihak yang berkepentingan (stakeholders), dalam hal ini membutuhkan waktu dan diplomasi yang tidak mudah.

Program rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang (COREMAP) yang sedang berjalan sekarang mengambil lokasi terutama di kawasan konservasi laut, seperti Taman Nasional Laut Taka Bone Rate (Sulawesi Selatan), Taman Nasional Laut Pulau Padaido, Biak Numfor (Papua Barat), laut di Kabupaten Sikka (Nusa Tenggara Timur) dan Kepulauan Senayang Lingga yang akan dikembangkan menjadi kawasan konservasi laut. Oleh karena itu buku "Guidelines for Marine Protected Areas" yang diprakarsai oleh IUCN tahun 1999 dibawah koordinasi Graeme Kelleher, seorang ahli kawasan konservasi laut yang berpengalaman sebagai pimpinan Great Barrier Reef Marine Park Authority menjadi penting untuk dianalisis.

Beberapa langkah yang perlu di perhatikan dalam pembentukan dan pengembangan kawasan konservasi laut dalam buku tersebut adalah :
1. Meletakan Kawasan konservasi laut dalam konteks pengelolaan yang lebih luas. Tingkat keterkaitan antara daratan dengan laut sekitarnya dan keterkaitan antara laut dengan laut lainnya menyebabkan perlunya kawasan konservasi laut untuk diintegrasikan dalam daerah (region) pengelolaan yang berhubungan dengan aktivitas masya-rakat yang mempengaruhi kehidupan biota laut. Oleh karena itu kawasan konservasi laut harus dipadukan dengan kebijakan-kebijakan lain dalam penggunaan lahan dan penggunaan laut itu sendiri. Disarankan juga pentingnya negara-negara memanfaatkan kesepakatan internasional, terutama yang tercantum dalam Hukum Laut Internasional (UNCLOS) maupun Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD). Dukungan internasional yang lebih besar masih dibutuhkan oleh Kawasan konservasi laut dan usaha yang keras harus dilakukan untuk membangun kawasan konservasi laut di laut lepas.

2. Mengembangkan kerangka hukum. Landasan hukum merupakan langkah kunci dalam pembentukan kawasan konservasi laut karena memberikan legalitas bagi lembaga atau masyarakat dalam pengembangan kawasan konservasi laut yang luas dengan pemanfaatan ganda (multi use area) termasuk persyaratan dalam peraturan perundangan, meskipun kebutuhan dan konteks persyaratan tersebut berbeda di masing-masing negara.

3. Bekerjasama dengan sektor yang relevan. Aktivitas masyarakat dari berbagai sektor mempengaruhi wilayah pesisir dan laut. Oleh karenanya menjalin kerjasama dengan melibatkan semua pihak terkait merupakan langkah awal yang penting. Pariwisata merupakan sektor yang paling banyak menerima manfaat sehingga dapat menciptakan kegiatan ekonomi paling besar. Kerjasama dengan pihak perikanan harus dilakukan secara hati-hati karena seringkali mereka merasa kepentingannya dirugikan. Sektor lain yang relevan adalah pekerjaan umum, pertanian, kehutanan, industri, pertahanan dan ilmu pengetahuan.

4. Menjalin mitra dengan masyarakat dan stakeholders lain. Pengelola kawasan harus memahami masyarakat lokal yang menerima dampak keberadaan kawasan konservasi laut dengan mengindentifikasi mitra potensial lainnya. Pengelola harus mendengar dan memahami berbagai kelompok kepentingan dan mencari jalan untuk melibatkan mereka dalam pengelolaan sumberdaya. Disarankan membangun kemitraan pengelolaan menggunakan model pengelolaan kolaboratif.

5. Pemilihan lokasi untuk kawasan konservasi laut. Pemilihan lokasi dan penentuan luas kawasan konservasi laut memerlukan penekanan yang berbeda dengan penentuan kawasan konservasi darat. Di berbagai tempat, banyak masyarakat lokal tergantung kepada jasa dan sumber daya yang diberikan oleh komunitas alami di darat. Tetapi ketergantungan masyarakat terhadap wilayah laut bahkan dapat lebih besar. Beberapa bentuk aktivitas perikanan dapat terjadi di wilayah yang luas tanpa mengancam tujuan konservasi, karena tidak memodifikasi habitat. Hal ini memungkinkan menyeimbangkan antara konservasi dan kebutuhan masyarakat local. Perlu perhatian seksama terhadap kegiatan diluar Kawasan konservasi laut yang dapat berpengaruh buruk misalnya pencemaran. Berlandaskan prinsip-prinsip di atas, panduan tersebut megemukakan satu set criteria untuk pemilihan lokasi Kawasan konservasi laut yang telah banyak digunakan di berbagai banyak negara dalam beberapa tahun terakhir ini. Kriteria tersebut disusun berdasarkan berbagai aspek seperti: biogeografi, ekologi, keaslian, manfaat ekonomi dan social, manfaat ilmiah, dan aspek kepraktisan atau kelayakan.

Merencanakan dan mengelola Kawasan konservasi laut. Pengelolaan harus responsive dan adaptif, mampu bekrja sama dengan fihak-fihak kepentingan local sedemikian rupa sehingga memperoleh dukungan guna mencapai tujuan konservasi. Untuk mencapai hal tersebut, pengelola seyogyanya mengadopsi suatu pendekatan system, memanfaatkan tim antar disiplin dan menganut tahapan pemgambilan keputusan yang jelas. Pengelolaan Kawasan konservasi laut sebagian besar adalah me-nge-lola aktivitas manusia oleh karena itu hal tersebut harus merupakan "jantung" dari pendekatan yang dianut.˙

7. Zonasi. Pembagian wilayah menjadi berbagai zona yang dialokasikan untuk berbagai penggunaan. Zonasi ini akan memberikan kepastian mengenai perlindungan terhadap zona inti (core zone) sebagai bagian dan wilayah penggunaan ganda yang lebih luas. Tahap-tahap yang diperlukan untuk membentuk zonasi disusun pada Annex 3 dan buku panduan termaksud.

8. Perencanaan untuk keberlanjutan pendanaan. Keterbatasan dana hampir selalu merupakan masalah yang kritis bagi pengelola Kawasan konservasi laut. Oleh karena itu pengelola membutuhkan keleluasan untuk menghimpun dana dengan berbagai cara yang dimungkinkan, seperti menarik biaya dan pengguna (user fee), donasi dan dana-dana lingkungan hidup (environmental funds), serta memegang dana tersebut untuk pengelolaan Kawasan konservasi laut. Donor-donor dan luar disarankan memperpanjang periode bantuannya untuk proyekproyek Kawasan konservasi laut guna membantu pencapaian keberlanjutan pendanaan.

9. Riset, pemantauan dan evaluasi. Riset dan pemantauan harus berorientasi secara jelas untuk memecahkan masalah-maslah pengelolaan. Buku Panduan memuat petunjuk mengenai perencanaan program penelitian dan pemantauan pada fase-fase perencanaan dan implementasi KKL. Dan semuanya yang terpenting adalah memanfaatkan hash riset dan pemantauan untuk mengevaluasi pengelolaan dan bila penlu mengadakan perubahan-perubahan untuk perbaikan˙

(M. Hutomo)

Source :

ARTIKEL LAINNYA

Yayasan Tuah Belia
International Coral Reef Initiative (ICRI)
A Manual For Monitoring Coral Reef With Indicator Species : Butterflyfishes As Indicator
Coral Reef Animal
Yayasan Hualopu

<< Kembali