Login | Home | Kontak Kami | Buku Tamu
English Version   
Kebijakan
Strategi & Program

Perpustakaan
Referensi
Klipping
Proceeding
Bibliografi
Produk Coremap
Audio-Video
Photo

Metadata
Database Personal
Pelatihan
Kawasan Konservasi

Karang Batu
Karang Lunak
Sponge
Ikan Karang
Moluska
Echinodermata
Udang
Kepiting
Lamun
Rumput Laut
Mangrove

Education Series
Komik Edukasi

Baseline
Monitoring
Riset Agenda
CREEL
Konservasi Laut Daerah
Wisata Bahari

Kamus Karang
Daftar Singkatan
Panduan
Download
E-Book
 

















Anda Pengunjung ke

05929008

Sejak Mei 2007

ARTIKEL - LIPUTAN MEDIA
Kondisi Terumbu Karang Makin Memburuk
30 Maret 2012

TERUMBU karang di perairan Indonesia menyisakan 30 persen dalam kondisi baik. Perilaku tak bertanggung jawab segelintir orang, menjadi salah satu penyebabnya. Tentu ada penyebab lainnya. Seperti apa kondisi sumber daya laut Indonesia dan juga terumbu karangnya, serta apa yang mesti dilakukan? 

Berikut petikan wawancaradengan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (LP3K) Universitas Hasanuddin (Unhas), sekaligus Sekretaris Eksekutife COREMAP II KKP Prof Dr Jamaludin Jompa.

Bisa Anda jelaskan kondisi kerusakan terumbu karang yang dimiliki Indonesia?
Saya ingin perjelas, bahwa yang 30 persen itu, sekitar 5 persen masih sangat baik. Ketertutupan karang hidup di atas 75 persen, ketertutupan karang yang masih relatif baik 45 persen. Selebihnya, sekira 34 persen dalam kondisi yang sudah buruk. Itu ketertutupan karangnya kurang dari 30 persen. Selebihnya, sekira 35 persen, ini yang mengkhawatirkan karena sudah sangat parah, ketertutupan karang hidupnya sudah kurang dari 20 persen.

Apa penyebabnya?
Banyak. Mulai dari faktor manusia, juga sebagian karena alam. Penyebab kerusakan karena manusia ini juga di kelompokkan ke dalam banyak hal. Misalnya penangkapan ikan yang merusak, pengeboman, pembiusan, pengambilan batu karang untuk bahan bangunan, pembuangan jangkar sembarangan, membuang sampah. Ada juga yang sifatnya tidak langsung, tetapi penyebabnya karena manusia. Misalnya karena polusi yang sifatnya kronis, sisa-sisa minyak, dan sedimentasi.

Kalau yang alami, jika dipersentasekan, penyebab kerusakan karena perbuatan manusia, sekitar 65 persen, dan yang alamiah sekitar 35 persen. Ini juga cukup serius. Yang paling serius saat ini adalah pengaruh perubahan iklim. Kita belum terlalu sadar bahwa kenaikan suhu yang terjadi di laut, menyebabkan terganggunya terumbu karang. Terumbu karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu, tidak seperti di darat.

Apa implikasinya jika perubahan suhu terjadi?
Peningkatan suhu dua derajat saja dari rata-rata suhu perairan saat itu, menyebabkan terumbu karang melepaskan simbion dari mikro alga yang menyuplai makanannya sampai 90 persen. Ketika kerusakan hubungan antara simbion ini terjadi karena fisiologi karang yang merespons kenaikan suhu karena stres, maka menyebabkan karang memutih kemudian mengalami kematian.
Itu dari tahun ke tahun menjadi salah satu penyebab kerusakan. Penyebab kerusakan lain yang sangat alamiah, misalnya ketika terjadi tsunami, gempa bumi, dan lain-lain. Juga bisa terjadi karena badai.

Sejauh mana ancaman kerusakan itu terhadap ketersediaan sumber daya perikanan terhadap masyarakat pesisir?
Kalau kita merunut seluruh penyebab kerusakan, seolah-olah terumbu karang akan habis. Begini, terumbu karang itu memiliki kemampuan recovery (memperbaiki diri) secara alami, memiliki kemampuan untuk pulih. Tetapi itu sangat tergantung pada kondisi dasarnya. Kalau masih sangat sehat, misalnya dianalogikan seperti manusia fit, ketika diterpa angin, flu sedikit, maka itu akan cepat sembuh. Tetapi kalau misalnya kita lagi kurang sehat, misalnya banyak begadang, itu kita susah sembuh dan mudah terserang penyakit.

Implikasinya sekarang, terhadap seluruh kerusakan ini, memang yang menyebabkan terumbu karang kita sulit beranjak dari kondisi yang buruk ini. Dari dulu, sejak 1990-an ketika kita evaluasi kondisi terumbu karang di seluruh Indonesia, itu walaupun pemerintah telah berupaya keras, namun kerusakan itu telah terjadi.

Pemeliharaan terumbu karang kadang-kadang terhambat pada perilaku sebagian masyarakat di pesisir dan kepulauan yang masih menggunakan bom ikan, antisipasinya seperti apa?
Memang sangat tergantung pada masyarakatnya. Kalau dikelompokkan barangkali ada minimal tiga kelompok yang menjadi alasan kenapa mereka melakukan illegal fishing. Yang pertama karena mereka tidak tahu, kedua mereka tahu tapi serakah, dan ketiga tahu, tapi terpaksa. Cara mengatasinya adalah tergantung situasinya.
Kalau memang karena tidak tahu, maka pendekatannya kita harus banyak sosialisasi dan memberi tahu mereka bahwa dampak dari perbuatannya itu terlalu besar, jauh lebih bermanfaat jika dipelihara karena akan memberikan hasil yang lebih banyak.

Untuk kelompok yang tahu tapi serakah, selain harus ada peringatan, juga mesti ada penegakan hukum. Memang ini agak sulit karena di darat saja hukum susah ditegakkan, apalagi di laut. Ini yang dilematis karena laut yang luas, namun aparat yang kurang. Selain itu, negosiasi di laut sangat mudah.

Yang ketiga, yang tak kalah pentingnya. Oleh LSM kelompok ini dibela karena membom dan membius ikan terpaksa dilakukan. Ini yang harus diubah bahwa mereka tidak akan mati walau tanpa membom. Membom untuk satu perut, akan mengorbankan ribuan perut lain. Ini tak boleh ditolerir.

Beberapa pakar menyebutkan bahwa ketersediaan ikan kita semakin berkurang dan ini akan berimplikasi bagi kesejahteraan masyarakat pesisir. Bagaimana dengan hal itu?
Laut itu barang hidup. Bukan berarti ketika berkurang, maka akan berkurang selamanya. Barang hidup ini bisa pulih, tumbuh, dan berkembang. Tidak semua jenis ikan mengalami penurunan, ada yang masih tetap produktif. Masih banyak potensi lain kendati memang banyak yang menurun. Secara keseluruhan, masih banyak yang bisa dieksploitasi.
Yang sudah menurun pun itu bisa dipulihkan. Makanya, program banyak pemerintah untuk itu, misalnya pembuatan kawasan konservasi laut. Ini dimaksudkan agar proses recovery (pemulihan) terumbu karang cepat. Tujuannya agar produktivitasnya bisa meningkat dalam waktu 5-10 tahun.

Siapa yang bertugas memperbaiki terumbu karang yang rusak itu?
Di sinilah sebenarnya masalah yang tidak gampang. Kalau pemerintah saja, itu sulit. Misalnya masalah akses yang jauh. Masyarakat saja juga sulit karena mereka tidak bisa melakukan law enforcement (penegakan hukum) sendiri. Makanya perlu apa yang disebut co-management atau pengelolaan bersama, yakni masyarakat, pemerintah, dan seluruh stakeholder sehingga kita sama-sama memberi kesempatan pada alam agar bisa recovery.

Yang tidak kalah pentingnya juga, jika sudah pulih, siapa yang berhak mengelolanya. Ada yang mengatakan pengelolaan laut harus sama dengan daratan. Itu tidak bisa karena rezim pengelolaan daratan jauh beda dengan pengelolaan lautan. Lautan sifatnya open access, semua masyarakat Indonesia bisa mengambil apa saja, sementara di darat itu tidak boleh.

Untuk konservasi laut sendiri, aturan mainnya bagaimana?
Konverasi laut itu sudah ada payung hukumnya, mulai dari UU 27/2007 untuk pengelolaan pesisir dan laut, PP No. 60/2007. Semua itu rujukan terbuka peluang, mulai kabupaten, provinsi, hingga pusat untuk membuat kawasan konservasi. Membuatnya ada prosesnya, mulai dari zonasi, pemilihan kawasan, pemisahan area wisata dan konservasi dll yang betul-betul compatible. Inilah yang harus ada unit yang mengelolanya. Di kabupaten dan provinsi harus ada UPT (unit pelaksana teknis), dan untuk nasional ada lembaga khusus yang biasanya berbentuk badan pengelola atau balai, dll.

Source : http://www.fajar.co.id/read-20120329183705-kondisi-terumbu-karang-makin-memburuk

ARTIKEL LAINNYA

Terumbu Karang Bertahan Terhadap Pengasaman Laut
Wakatobi segera jadi cagar biosfir dunia
"Coral Center" Unhas Diresmikan
Sistem Pemetaan Satelit Baru Bisa Selamatkan Terumbu Karang
Waspada, Seafood yang Mengandung Alga Beracun

<< Kembali