Login | Home | Kontak Kami | Buku Tamu
English Version   
Kebijakan
Strategi & Program

Perpustakaan
Referensi
Klipping
Proceeding
Bibliografi
Produk Coremap
Audio-Video
Photo

Metadata
Database Personal
Pelatihan
Kawasan Konservasi

Karang Batu
Karang Lunak
Sponge
Ikan Karang
Moluska
Echinodermata
Udang
Kepiting
Lamun
Rumput Laut
Mangrove

Education Series
Komik Edukasi

Baseline
Monitoring
Riset Agenda
CREEL
Konservasi Laut Daerah
Wisata Bahari

Kamus Karang
Daftar Singkatan
Panduan
Download
E-Book
 

















Anda Pengunjung ke

05792104

Sejak Mei 2007

STUDI BASELINE
2005 - Baseline Studi Sosial Ekonomi Kep.Riau (Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia Desa Duara, Kec. Lingga Utara, Kab. Lingga, Prop. Kep. Riau)
22 Pebruari 2005

IndoneBS Sosek Keprisia merupakan negara bahari yang memiliki berbagai sumber daya laut yang bernilai tinggi, khususnya terumbu karang. Terumbu karang yang dimiliki oleh Indonesia mencakup sekitar 16 persen luasan terumbu karang dunia. Terumbu karang berperan penting dalam menjaga ekosistem laut. Hal ini terlihat dari manfaat terumbu terumbu karang yang merupakan tempat berlindung dan mencari makan bagi berjuta-juta ikan dan biota laut lainnya. Oleh karena itu, terumbu karang juga merupakan tempat bergantungnya bagi jutaan nelayan. Selain itu, terumbu karang yang masih bagus juga dapat dijadikan objek wisata yang kemudian dapat menyumbangkan devisa bagi negara.       Namun kondisi terumbu karang di Indonesia dewasa ini cukup memprihatinkan. Berbagai faktor ikut mempengaruhi kondisi terumbu karang tersebut. Selain faktor alam, kegiatan yang dilakukan oleh manusia seperti eksploitasi yang berlebihan dan penggunaan alat tangkap yang merusak seperti bom, pukat harimau dan sianida/racun ikut mengancam kelestarian terumbu karang di Indonesia.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk melindungi dan menyelamatkan terumbu karang, antara lain melalui COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program). Ada berbagai kegiatan COREMAP diantaranya adalah (1) membangun dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peranan penting terumbu karang (2) melakukan pengembangan berbagai alternatif sehingga tekanan terhadap terumbu karang akan berkurang. Tujuan akhir dari program tersebut adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Pada saat ini program COREMAP telah memasuki fase II. Sebelum kegiatan COREMAP fase II dilaksanakan, diperlukan data dasar sosial yang terkait dengan pengelolaan terumbu karang. 

Sehubungan dengan pelaksanaan Coremap tahap II, berdasarkan usulan dari pemerintah setempat, dipilih beberapa desa di Kecamatan Lingga Utara sebagai lokasi penelitian.  Pada awalnya, desa-desa yang terpilih antara lain adalah Desa Sekanah, Desa Duara dan Desa Resun. Berhubung Desa Sekanah sudah merupakan lokasi kegiatan COREMAP tahap I, maka Desa Sekanah tidak lagi dijadikan sebagai lokasi penelitian, meskipun desa tersebut juga dikunjungi pada saat penelitian ini dilakukan. Kemudian berdasarkan masukan dari pemerintah setempat, baik tingkat kabupaten maupun tingkat kecamatan yang mengatakan bahwa Desa Teluk, telah lama diusulkan sebagai salah satu lokasi COREMAP tahap II, maka  Desa Teluk dimasukkan sebagai salah satu lokasi penelitian. Desa ini merupakan desa terluar dari Kecamatan Lingga Utara yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan dimana sebagian besar penduduknya adalah nelayan. Selain itu, diperoleh informasi dari beberapa narasumber bahwa di daerah ini banyak dikunjungi nelayan luar yang menggunakan alat tangkap yang merusak seperti bom, pukat/trawl dan sianida. Hal lain yang juga menarik untuk dikaji di daerah ini adalah kebiasaan penduduk yang beralih pekerjaan menjadi penebang pohon bakau pada saat musim angin kencang, dimana sebagian besar nelayan tidak bisa melaut. Desa Teluk juga mempunyai sumber daya alam dan sumber daya laut yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obyek wisata bahari.

Studi ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisa data dasar tentang kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya laut, khususnya terumbu karang. Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam merancang, melaksanakan dan memantau program COREMAP. Selain itu, studi ini juga diharapkan dapat dipakai sebagai acuan dalam mengevaluasi keberhasilan program COREMAP, khususnya dari perspektif sosial.

Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan mengadakan survai terhadap 150 rumah tangga (50 rumah tangga setiap desa) yang dipilih secara acak dengan menggunakan metoda sistematic random sampling. Data yang dikumpulkan mencakup aspek sosial demografi anggota rumah tangga dan kondisi ekonomi rumah tangga terpilih. Selain data rumah tangga, dalam survai ini juga dikumpulkan data untuk tingkat individu dengan responden adalah anggota dari rumah tangga terpilih yang sudah berusia 15 tahun ke atas dan dipilih secara acak. Adapun informasi yang dikumpulkan meliputi pengetahuan dan sikap responden tentang terumbu karang, pengetahuan dan sikap tentang alat tangkap yang merusak, serta pengetahuan dan sikap responden tentang peraturan-peraturan pemerintah yang berkaitan dengan kelestarian sumber daya laut. Survai ini dilakukan dengan bantuan 15 orang tenaga pewawancara yang berasal dari penduduk setempat. Sementara data kualitatif, dikumpulkan dengan menggunakan kombinasi beberapa tehnik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara terbuka dan diskusi kelompok terfokus (focus group discussion/FGD) dengan nelayan. Pengumpulan data kualitatif dilakukan langsung oleh dua orang peneliti dengan menggunakan panduan wawancara.

Sebagian besar penduduk di ketiga desa penelitian bekerja di sektor perikanan. Oleh karena itu ketergantungan penduduk terhadap sumber daya laut, khususnya terumbu karang sangat tinggi. Potensi yang sumber daya laut yang ada di ketiga desa penelitian yang utama adalah ketam, cumi-cumi (sotong) dan ikan bilis (ikan teri). Khusus untuk Desa Teluk, terdapat berbagai jenis ikan permukaan seperti ikan sengarat, tengiri dan ikan putih dan ikan karang seperti kerapu, lobster dll. Selain itu, terdapat berbagai jenis kerang-kerangan seperti lola, lokan, gonggong dan siput batu meskipun kuantitasnya cenderung menurun.

Kondisi sosial ekonomi rumah tangga penduduk, sebagaimana umumnya masyarakat  nelayan adalah termasuk rumah tangga menengah ke bawah. Hal ini terlihat dari tingkat pendidikan sebagian besar anggota rumah tangga terpilih adalah sekolah  menengah pertama. Sementara jenis ketrampilan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya laut adalah ketrampilan membuat bubu ketam dan budidaya ikan kerapu yang dimulai pada awal tahun 2000. Pendapatan rata-rata rumah tangga per bulan pada musim teduh/ banyak ikan adalah sekitar Rp. 800.000. Pada musim-musim peralihan atau musim pancaroba, pendapatan rumah tangga ini cenderung menurun sejalan dengan menurunnya hasil tangkap yang mereka peroleh.

 Selain tingkat pendidikan dan pendapatan, rendahnya kondisi sosial ekonomi masyarakat di Desa Duara, Resun dan Teluk juga tercermin dari aset rumah tangga yang mereka miliki, baik yang berupa sarana produksi dan sarana non produksi, maupun kondisi perumahan dan sanitasi lingkungan. Sarana produksi yang digunakan oleh masyarakat di ketiga desa penelitian  dalam memanfaatkan sumber daya laut cenderung sangat sederhana. Meskipun ada beberapa penduduk yang memilki pukat trawl, kebanyakan perahu yang digunakan untuk mencari ikan adalah perahu motor dengan kapasitas mesin yang sangat rendah antara 1 – 3 GT. Alat tangkap yang digunakan juga masih tradisional seperti bubu, jaring dan pancing. Sebagian nelayan juga memiliki alat tangkap kelong (bagan tancap/apung). Namun karena biaya untuk membuat kelong cukup mahal, berkisar antara 4 – 6 juta per kelong, hanya sebagian kecil nelayan yang mampu memiliki alat tangkap ini. Kelong yang digunakan penduduk terutama di Desa Duara dan Desa Resun adalah untuk menangkap ikan bilis, sementara bagan apung yang digunakan oleh nelayan Desa Teluk adalah untuk menangkap ikan sengarat, udang dan ikan putih.

Sebagaimana umumnya masyarakat nelayan yang berinteraksi langsung dengan terumbu karang, hampir semua responden mengetahui dengan baik manfaat terumbu karang, khususnya manfaat ekologis. Pengetahuan bahwa terumbu karang merupakan tempat ikan hidup, bertelur dan mencari makan diketahui oleh seluruh responden di Desa Resun dan Teluk. Pengetahuan responden tentang manfaat ekonomi dari terumbu karang relatif cukup baik. Manfaat ekonomi terumbu karang yang diketahui responden umumnya sangat berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang fungsi terumbu karang sebagai tempat ikan hidup berkembang.

Adanya degradasi SDL, khususnya terumbu karang diakui oleh sebagian besar responden. Hal ini terlihat dari pendapat sebagian besar responden yang mengatakan bahwa kondisi terumbu karang di sekitar mereka sudah rusak dan perlu diperbaiki. Hanya sekitar 16 persen responden yang mengatakan kondisi terumbu karang di wilayah mereka masih bagus. Masyarakat di desa penelitian juga mengetahui jenis-jenis alat tangkap yang dapat merusak SDL seperti bom, sianida/racun atau tuba serta trawl/pukat harimau atau lampara dasar. 

Sebagian besar masyarakat di lokasi penelitian masih menggunakan alat tangkap tradisional seperti pancing dan bubu. Alat tangkap ini dapat dikatakan relatif ramah lingkungan. Namun beberapa tahun belakangan ini penggunaan alat tangkap yang merusak, khususnya pukat/trawl semakin banyak digunakan, khususnya oleh nelayan yang memiliki modal yang cukup besar. Pukat yang banyak digunakan oleh masyrakat setempat biasanya menggunakan armada tangkap berkekuatan 5-10 GT.

Sebagian besar nelayan di desa penelitian, khususnya di Desa Resun dan Desa Teluk merupakan nelayan ‘terikat’, dalam arti mereka mempunyai ikatan tidak tertulis dengan seorang pedagang besar atau pengumpul untuk menjual hasil tangkap mereka. Hal ini dilakukan karena umumnya nelayan di kedua desa tersebut mempunyai modal yang terbatas, sehingga untuk keperluan operasional maupun keperluan hidup sehari-hari mereka terpaksa meminjam modal dari pengumpul atau tauke. Sebagi konsekuensi, nelayan yang bersangkutan mempunyai kewajiban untuk menjual semua hasil tangkapnya kepada pedagang/pengumpul yang telah meminjamkan modal tersebut.

Produksi sumber daya laut yang paling banyak ditangkap oleh masyarakat di daerah penelitian adalah ikan bilis (ikan teri), ketam (rajungan), cumi (sotong). Pada dasarnya keberadaan ketiga SDL ini ada tidak mengenal musim, namun karena keterbatasan alat dan armada tangkap yang dimiliki, produksi yang dihasilkan nelayan sangat tergantung pada musim. Bila sedang musim teduh/ musim ikan, dengan menggunakan alat tangkap bubu yang khusus untuk ketam dapat diperoleh 7-8 ekor ketam dalam satu malam. Seorang nelayan biasanya memiliki rata-rata 20 bubu ketam.  Dengan demikian dalam satu malam seorang nelayan dapat memperoleh sekitar 120-160 ekor ketam. Ikan bilis umumnya dijual dalam keadaan kering. Alat tangkap yang digunakan nelayan pada umumnya untuk ikan bilis adalah kelong atau bagan tancap. Pada waktu musim ikan, dalam satu malam dari seorang nelayan dapat dihasilkan sekitar 50 kintau atau sekitar 150 kg ikan bilis basah (satu kintau sekitar 3 kg ikan bilis basah). Sotong atau cumi biasanya ditangkap dengan menggunakan alat tangkap comek. Oleh karena itu kegiatan mencari sotong dinamai nyomek. Hasil tangkap yang diperoleh nelayan dalam sekali menyomek sekitar 50-100 ekor cumi dari berbagai ukuran. Namun pada musim angin kencang dan musim pancaroba, jumlah ini jauh berkurang, bahkan adakalanya tidak dapat menghasilkan sama sekali.

Rantai pemasaran ikan bilis dan sotong di ketiga desa penelitian relatif sangat pendek. Untuk nelayan di Desa Duara dan Resun, karena letaknya yang sangat dekat dengan pedagang besar di Pancur, umumnya mereka langsung memasarkan hasil tangkapnya yang sudah dikeringkan ke pedagang besar. Para pedagang besar ini kemudian memasarkan sebagian ikan kering tersebut lansung ke masyarakat di sekitarnya dengan menjual langsung di tokonya. Selain itu ikan kering tersebut juga dikirim ke pedagang besar lainnya di Batam, Tanjung Pinang atau Riau, bahkan tidak jarang sampai ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.

Dibanding dengan ikan bilis dan sotong, rantai pemasaran ketam lebih panjang. Meskipun ketam bisa dipasarkan langsung dalam keadaan hidup ke masyarakat, sebagian besar nelayan memilih menjual hasil tangkapnya ke pedagang pengumpul yang kemudian merebusnya terlebih dahulu sebelum dijual ke supliyer perusahaan besar. Supliyer tersebut kemudian mengirimkan ketam yang sudah dikupas dan di sortir sesuai dengan klasifikasinya ke perusahaan pengalengan, setelah dikalengkan, barulah ketam tersebut dipasarkan langsung ke masyarakat atau restoran-restoran besar di dalam dan luar negeri.

Pada beberapa tahun belakangan ini, nelayan di ketiga desa penelitian mulai merasakan dampak kerusakan SDL di sekitar mereka. Hal ini dirasakan dengan semakin sedikitnya hasil tangkap yang mereka peroleh dari tahun-ketahun. Selain itu jenis ikan yang dulu banyak ditemui di perairan disekitar mereka, sekarang sudah mulai langka. Menurut penuturan beberapa nelayan baik di Desa Duara, Desa Resun maupun Desa Teluk, pada masa sekitar sepuluh tahun yang lalu, gong-gong dan ketam banyak bertebaran di perairan disekitar mereka. Pada masa itu tidak diperlukan jauh-jauh pergi ke laut untuk mendapatkan hasil laut gong-gong dan ketam, namun pada masa sekarang hal itu tidak dapat lagi dilakukan.

Kerusakan SDL di lokasi penelitian antara lain disebabkan oleh adanya eksploitasi yang berlebihan dan penggunaan alat tangkap yang merusak. Salah satu jenis SDL yang dianggap sudah dieksploitasi secara berlebihan adalah ketam. Kalau pada masa lalu ketam yang ditangkap oleh nelayan terbatas pada ketam yang besar-besar, pada masa sekarang ini, bahkan ‘bayi-bayi’ ikanpun turut ditangkap. Hal ini antara lain karena adanya permintaan pasar yang sangat tinggi sehingga dapat memotivasi penduduk untuk mengeksploitasi SDL tersebut secara besar-besaran. Di Dusun Pancur setidaknya ada tiga pabrik ketam yang menampung hasil yang didapat nelayan tanpa batas. Kehadiran para pedagang besar tersebut disatu pihak sangat membantu perekonomian para nelayan, karena dengan demikian mereka tidak perlu lagi kuwatir akan pemasaran hasil tangkap mereka. Selain itu karena jumlah pedagang besar di daerah mereka lebih dari satu, menyebabkan harga ketam di tingkat nelayan relatif stabil karena persaingan harga antar pedagang.

Dilain pihak, kehadiran pabrik ketam yang lebih dari satu tersebut dapat juga menimbulkan degradasi terhadap sumber daya laut. Banyaknya pabrik ketam berarti tingginya permintaan yang kemudian juga akan memotivasi nelayan untuk menangkap hasil sebanyak-banyaknya. Lama kelamaan populasi sumber daya tersebut akan semakin sedikit, apalagi seperti telah disinggung sebelumnya bahkan bayi ketam pun turut ditangkap. Keadaan ini kalau tidak cepat diatasi akan menimbulkan kerusakan sumberdaya laut yang semakin parah. Bukan tidak mungkin populasi ketam suatu waktu nanti akan punah diperairan sekitar Kepulaun Riau.

Hal yang sama juga terjadi dengan penebangan pohon bakau di Desa Teluk. Kegiatan ini disebabkan tingginya permintaan terhadap kayu pohon bakau yang kemudian diolah menjadi arang. Tingginya permintaan ini dipicu oleh kehadiran perusahaan arang atau dapur arang di Desa Teluk. Kehadiran pabrik arang di desa mereka telah memotivasi masyarakat setempat untuk bekerja di pabrik tersebut sebagai penebang pohon bakau untuk dijadikan arang, khususnya ketika sedang tidak dapat melaut.

Hal lain yang menyebabkan degradasi SDL adalah benggunaan alat tangkap pukat/trawl banyak dilakukan oleh nelayan yang berada di Dusun Pasir Lulun, Desa Resun dan Dusun Pancur, Desa Duara. Dalam peng-operasiaannya alat tangkap ini dapat merusak sumber daya laut karena bentuk jaringnya yang sangat halus mengakibatkan ikan-ikan kecil juga turut terjaring. Penggunaan Bom untuk menangkap ikan banyak terjadi tahun 90-an sampai awal tahun 2000. Menurut nelayan di ketiga desa penelitian, pada masa-masa tersebut banyak kapal-kapal luar yang datang ke wilayah mereka menggunakan bom untuk menangkap ikan. Pada dasarnya kedatangan nelayan luar yang menggunakan bom tersebut tidak dirasa menggangu oleh sebagian nelayan. Karena biasanya nelayan tradisional akan ikut mendapat hasilnya. Setelah melakukan pengeboman untuk menghindari aparat, biasanya kapal tersebut akan dengan cepat mengumpulkan hasil tangkap mereka dan buru-buru meninggalkan lokasi pengobam. Pada waktu itulah nelayan tradisional ke lokasi pengeboman dan mengutip ikan yang tidak sempat dikumpulkan kapal pengebom tersebut.

Selain pukat, alat tangkap bubu yang banyak dimiliki masyrakat tradisional juga pada dasarnya dapat merusak terumbu karang. Hal ini disebabkan karena umumnya bubu diletakkan di dasar laut disekitar terumbu karang, karena di daerah inilah yang banyak ikannya. Alat ini akan bergeser terbawa gelombang dan merusak terumbu karang. Dampak kerusakan yang dihasilkan alat tangkap ini tampaknya belum disadari masyarakat di daerah penelitian.

 Kerusakan sumber daya laut juga dipengaruhi oleh faktor struktural seperti keberadaan kebijakan dan program yang mengatur pengelolaan sumber daya laut. Pada dasarnya pemerintah ditingkat pusat telah membuat peraturan berupa perundang-undangan yang mengatur kondisi lingkungan hidup, termsuk sumber daya laut di Indonesia. Namun tampaknya keberadaan undang-undang dan peraturan tersebut belum dilaksanakan dengan konsisten. Hal ini terlihat dari pengakuan sebagian besar responden, yang mengaku mengetahui adanya pelarangan, namun hanya sebagian kecil yang mengaku tahu tentang sanksi hukum terhadap pelanggaran peraturan-peraturan tersebut. Meskipun mereka melihat banyak nelayan yang melanggar peraturan tersebut, belum ada yang terkena sanksi.

Kondisi sosial politik ditingkat nasional dan lokal tampaknya juga berpengaruh terhadap pengelolaan sumber daya laut di Kepulauan Riau. Adanya otonomi daerah dan pemisahan Kepulauan Riau dari Propinsi Riau dan menjadi propinsi sendiri berpengruh terhadap pelaksanaan program pelestarian sumber daya laut. Selain keberadaan propinsi yang baru, Kabupaten Lingga dan Kecamatan Lingga Utara juga merupakan daerah administratif yang baru. Satu pihak kondisi ini dapat memberi dampak yang positif terhadap pengelolaan sumber daya laut, bila sumber daya manusia yang terkait didalamnya menyadari akan pentingnya pelestarian sumber daya laut. Dengan demikian diharapkan kebijakan dan program yang disusun akan mengutamakan pelestarian SDL. Namun dilain pihak, kondisi daerah yang masih baru juga mengakibat sumber daya di dalamnya relatif masih baru, sehingga ada kemungkinan kurang memahami fungsinya. Hal ini dapat menimbulkan kesalahan pengelolaan sumber daya laut.

Kendala lain yang sangat umum dihadapi dalam penegakan hukum adalah kendala teknis dilapangan seperti luasnya wilayah laut yang harus diawasi dengan sumber daya manusia dan peralatan yang sangat terbatas. Minimnya sarana transportasi dan jumlah aparat penegak hukum di wilayah Kecamatan Lingga Utara ditambah dengan kondisi alam yang kurang bersahabat mengakibatkan sulitnya melakukan pengawasan.

Untuk mengatasi kendala teknis yang dihadapi oleh aparat penegak hukum, salah satu cara yang cukup efektif adalah dengan mengikutsertakan masyarakat untuk ikut mengawasi wilayah laut mereka. Namun masyarakat tampaknya enggan untuk melakukannya. Selain karena armada tangkap yang mereka miliki kalah jauh dari nelayan pendatang, seringkali pelanggaran tersebut dilakukan oleh nelayan dari desa mereka sendiri atau nelayan dari desa tetangga yang juga mereka kenal. Untuk menghindari konflik antar sesama nelayan, mereka lebih berharap aparat keamananlah yang melakukan pengawasan. 

Konflik terbuka antar sesama nelayan lokal di ketiga desa penelitian belum pernah terjadi. Namun dari wawancara terbuka dan diskusi kelompok dengan masyarakat nelayan diperoleh kesan, ada isu yang potensial menjadi bibit konflik diantara sesama nelayan lokal. Kesenjangan tehnologi tangkap antara nelayan tradisional yang umumnya memiliki modal yang terbatas dengan nelayan modern yang memiliki modal yang cukup tinggi dapat menimbulkan permasalahan. Penggunaan alat tangkap trawl oleh sebagian nelayan local yang memiliki modal yang besar, dituding oleh nelayan tradisional sebagai penyebab berkurangnya jumlah ikan yang mereka peroleh dan hilangnya bubu yang mereka sebar di laut. Usaha pemerintah desa, seperti yang dilakukan di Desa Resun, yaitu mengatur waktu tangkap untuk pukat, tampaknya belum sepenuhnya didukung oleh nelayan. Oleh karena itu, untuk mengatisipasi hal-hal yang tidak diinginkan semakin berkembang, perlu adanya peraturan yang tegas dan konsisten dari pemerintah setempat terhadap penggunaan alat tangkap yang merusak, khususnya trawl.

Source : CRITC COREMAP-LIPI

Attachment(s)
NoFilenameSize
1 BaseLine_Sosek_Ds-Duara_Lingga_2006.pdf    1102546 bytes  

ARTIKEL LAINNYA

2007 - Baseline Studi Sosial Ekonomi Sikka (Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II Kasus Kab. Sikka)
2007 - Baseline Studi Sosial Ekonomi Selayar (Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II Kasus Kab. Selayar)
2007 - Baseline Studi Sosial Ekonomi Raja Ampat (Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II Kasus Kab. Raja Ampat)
2007 - Baseline Studi Sosial Ekonomi Kab. Pangkajene (Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II Kasus Kab. Pangkajene dan Kepulauan)
2007 - Baseline Studi Sosial Ekonomi Biak Numfor (Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II Kasus Kab. Biak Numfor)

<< Kembali